Your web-browser is very outdated, and as such, this website may not display properly. Please consider upgrading to a modern, faster and more secure browser. Click here to do so.
ada dua cara untuk menebarkan cahaya terang, jadilah nyala lilin atau cermin yang menerima sinarnya. aku ingin menjadi lilin, bersinar dan selalu mendermakan cahayanya.
Baiklah, saya tidak ingkar janji, ini permintaannya sudah saya kabulkan. :) Bukan untuk stimulus galau, hanya berbagi cerita. Silakan disimak, di bawah ini ada beberapa teori Psikologi Keluarga tentang pemilihan pasangan. Ini kalau ada yang salah atau kurang tepat tolong dikoreksi. ;)
1. Teori Psikodinamika
Psikodinamika adalah salah satu aliran besar dari tiga aliran besar di Psikologi. Tokoh yang terkenal dari aliran ini adalah Sigmund Freud, inti dari aliran ini adalah bahwa tingkah laku dan kepribadian dipengaruhi oleh ketidaksadaran. Jadi, kita melakukan atau bersikap sesuatu karena hal-hal yang secara tidak sadar ada di dalam diri kita. Menurut teori ini, seseorang memilih pasangan karena
a) parent image, kita cenderung memilih pasangan hidup yang seperti orang tua kita. Misalnya seorang perempuan yang jatuh cinta pada laki-laki yang hampir mirip ayahnya, juga seorang laki-laki yang menikah perempuan yang hampir mirip ibunya. Biasanya mirinya itu tingkah laku, atau cara pemikiran.
b) ideal mate, kita memilih pasangan berdasarkan kriteria pasangan ideal yang sudah ada di dalam diri kita. biasanya setiap orang memiliki kriteria tertentu tentang pasangan ideal. nah, misalnya saya mau menikah dengan orang yang suka warna biru, atau menurut kita pasangan ideal itu adalah yang sholat subuh nya di masjid #eh.
2. Teori kebutuhan
Menurut teori ini, biasanya kita mencari pasangan yang dapat memenuhi kebutuhan hidup kita. Atau ada juga teori kebutuhan komplementer, dimana hubungan pasangan itu bisa terjalin karena dua orang yang merasa bisa saling memenuhi kebutuhan hidup masing-masing. Kebutuhan hidup itu ga terbatas sama sandang, pangan, papan, tapi juga kenyamanan, kasih sayang, perhatian, dll.
3. Teori Pertukaran
a. Pertukaran yang tradisional, dimana pasangan melanjutkan hubungan karena percaya akan mendapatkan kembali apa yang sudah diberikan pada pasangan. Jadi seseorang yakin akan mendapatkan hal yang setimpal dari apa yang sudah ia berikan pada pasangannya.
b. Teori Keadilan, dimana seseorang yakin dan percaya bahwa hubungan yang baik dan tepat akan mengembalikan apa yang sudah diberikan dengan proporsi yang tepat.
4. Teori Proses Perkembangan
Ada faktor-faktor perkembangan yang memengaruhi seseorang untuk memutuskan apakah pasangannya merupakan orang yang tepat untuk menjadi pasangan hidup. a) apakah seseorang itu memenuhi syarat untuk dijadikan pasangan hidup, b) keakraban dan kedekatan, c) ketertarikan, d) homogami dan heterogami, kecenderungan atas homogami dan heterogami tentunya menentukan siapa yang akan dijadikan pasangan hidup. e) kesesuaian, apakah dua orang merasa sesuai dan serasi untuk hidup bersama. f) proses penyaringan dan seleksi, seorang yang ingin dijadikan pasangan hidup akan kita seleksi dan saring agar menemukan orang yang dianggap tepat.
5. Teori waktu dan tempat
Nah ini, pasangan hidup yang tepat bisa jadi muncul di waktu dan tempat yang paling tepat. Sebaik apapaun, atau secocok apapun seseorang dengan kriteria yang kita inginkan bisa jadi orang itu tidak akan membuat kita merasa yakin bahwa ia lah pasangan yang tepat. Tapi bisa jadi, seseorang yang biasa saja datang di waktu dan tempat yang tepat membuat kita merasa ‘klik’ dan yakin ini dia!
6.Teori Stimulus-Value-Role
hubungan yang serius biasanya melewati tiga tahapan, pertama, dua orang yang saling tertarik karena penampilan fisik, karena interaksi yang nyambung, reputasi, pakaian yang dipakai. Pokoknya seseorang tertarik dengan orang lainnya karena hal-hal yang terlihat dari luar.
kemudian, tahap kedua adalah karena pasangan ini memiliki kesamaan value/nilai dalam memandang kehidupan. memiliki visi dan misi hidup yang sama, kemauan untuk saling mengkompromikan nilai tentang hidup, cara pandang akan politik, lingkungan, dll.
terakhir, tahapan role/peran. pasangan mengevaluasi diri apakah mereka bisa melakukan dan berbagi peran dengan baik antar satu sama lain. kalau ketiga tahapan ini berjalan dengan baik, bisa jadi pasangan itu merupakan orang yang tepat. Atau kalau mau menemukan orang yang tepat coba carilah orang yang cocok dan sesuai melewati tiga tahapan ini bersama.
Cukup sekian, setidaknya dari apa yang saya pelajari saya menemukan enam teori ini dalam pemilihan pasangan. Nah saya ga pelit informasi kan? :p
Selamat membaca, semoga kalian juga mengangguk-angguk ketika membaca ini. Sama persis seperti apa yang saya lakukan ketika mendengarkan penjelasan dosen. Doakan ujian Psikologi Keluarga saya ya …
5 notes
boleh carikan satu buat saya :D
haha emang ya anak Psikologi UI itu calon istri dan mantu idaman :p
jadi pengen punya istri lulusan psikologi ui.. hehee… :)